555
Nury Khoiril Jamil |

Majelis Sholawat Syubbanul Muslimin dalam Pandangan Milenial

Sumber Gambar: http://teammultimediasyubband.blogspot.com

Oleh: Nury Khoiril Jamil*

Sholawat merupakan salah satu perwujudan cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Sholawat kepada Nabi Muhammad memiliki kedudukan tinggi di hati setiap muslim. Karena itu, sholawat sudah seperti kebutuhan primer bagi pecinta Nabi Muhammad. Hal tersebut bukan tidak berdasar, Allah dan Malaikat juga bersholawat untuk Nabi sebagaimana yang tertuang pada surat Al-Ahzab ayat 56.

Terdapat banyak hal positif yang didapat ketika bersholawat. Selain pahala, secara psikologis juga dapat berpengaruh. Menurut Seligmen, kebahagiaan adalah keadaan psikologis yang positif dimana seseorang memiliki emosi positif berupa kepuasan hidup dan juga pikiran dan perasaan yang positif terhadap kehidupan yang dijalaninya. Dengan demikian, ukuran bahagia menurut Seligmen adalah ketika memiliki emosi positif. Dalam hal ini, sholawat adalah bentuk cinta yang diberikan oleh umat untuk nabinya. Sehingga, dengan landasan cinta maka puncak kebahagiaan akan tercapai.

Di Indonesia, sholawat dilakukan secara individu dan juga dilakukan secara massal. Sholawat yang dilakukan secara massal dinaungi oleh suatu wadah yaitu majelis sholawat. Dengan adanya majelis sholawat, maka bersholawat dapat dilakukan secara terbuka untuk umum.

Majelis sholawat memiliki arti sebagai wadah atau penampung individu yang ingin bersholawat bersama individu lain. Majelis sholawat dapat dikatakan sebagai komoditas dalam negeri, karena terdapat banyak majelis sholawat di daerah-daerah Indonesia.

Berbagai nama majelis sholawat menghiasi negeri ini, contohnya: Majelis Rasulullah, Az Zahir, Bhenning, Dawatus Syubban, Rijalul Ansor, Syubbanul Muslimin, dan sebagainya. Dari berbagai majelis sholawat, terdapat beberapa majelis sholawat modern yang tidak hanya memanfaatkan ketika acara terbuka (off air). Namun juga memanfaatkan YouTube dan media sosial sebagai ladang dakwahnya. Syubbanul Muslimin merupakan contoh kesuksesan dalam hal dakwah melalui media elektronik, dibuktikan dengan penghargaan pencapaian satu juta pelanggan di YouTube dan jumlah pengikut di Instagram, Facebook serta media sosial lainnya.

Sejarah Majelis Sholawat Syubbanul Muslimin

Majelis sholawat Syubbanul Muslimin merupakan majelis sholawat yang berasal dari kota Probolinggo, yakni di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Qadim. Majelis ini telah lama lahir, tepatnya tiga belas tahun lalu.

Sebelum majelis ini viral, terdapat perjuangan besar yang dilakukan oleh para santri dan kiai agar ruang dakwahnya lebih luas. Perjuangannya tidak selamanya mulus, terdapat olok-olokan kepada mereka. Namun mereka tetap bergerilya agar niat dan hajat dapat tercapai.

Majelis ini didirikan oleh KH. Hafid Hakim Noer, yakni ketika beliau pulang dari Pondok Lirboyo. Beliau prihatin dengan keadaan pemuda desa sekitar Pondok Pesantren ayahnya yang mulai berubah ke arah negatif. Nun Hafid panggilan akrabnya, berawal dari majelis yang tidak memiliki nama yang mengisi acara bersama KH. Nurudin Musyiri di desa sekitar Pondoknya spontan mengusulkan nama “Syubbanul Muslimin” yang artinya pemuda-pemuda islam.

Berawal dari rumah ke rumah, teras ke teras. Perjuangan dakwah mereka melalui sholawat tidak sedikitpun surut. Jamaah yang awalnya hanya beranggotakan empat puluh orang, kemudian semakin membengkak dan terus bertambah, membuat mereka bersemangat untuk membumikan shalawat.

Dengan slogan yang khas “Bergerak tanpa gores, istikomah tanpa batas, semua karena cinta” sehingga mudah diterima oleh kalangan milenial. Majelis ini mengedepankan konsep cinta, sehingga mudah diterima di masyarakat khususnya milenial.

Majelis ini memiliki ciri khas dan membuat mudah digandrungi semua kalangan. Contohnya, mengubah lirik lagu yang sedang viral menjadi lirik dakwah dan sholawat. Hal tersebut, membuat majelis ini kian dilirik oleh pemuda-pemudi.

Lagu sholawat yang mendapat banyak respon positif berjudul “Cinta dalam Istikharah” yang ditonton oleh delapan belas juta penonton di YouTube. Pencapaian ini tentu bukan hal mudah, karena majelis ini telah melewati masa-masa sulit selama belasan tahun untuk menjadi hingga seperti saat ini.

Majelis Syubbanul Muslimin dalam Pandangan Milenial

Majelis sholawat Syubbanul Muslimin kini telah dikenal banyak kalangan, dari orang tua hingga anak-anak. Tentu hal ini memiliki dampak tersendiri bagi konsumen sholawat Syubbanul Muslimin. Ada banyak hal yang ingin penulis ulas pada kesempatan ini. Majelis ini memiliki klub penggemar nasional yaitu “Syubban Lovers Nusantara”. Namun tidak sampai di situ, setiap daerah kabupaten atau kota terdapat juga kordinator daerah yang terstruktur, sehingga efisien dan efektif dalam menjalankan dakwah internalnya.

Kuantitas penggemar menjadi suatu ladang dakwah yang masif agar dapat menarik hati pemuda untuk berubah ke jalan yang benar. Dampak majelis sholawat Syubbanul Muslimin sangat terasa bagi pemuda khususnya.

Pertama, penulis melakukan riset dengan menggunakan sistem angket kepada kontak Whatsapp, dengan hasil 100% dari 22 responden mengetahui tentang majelis Syubbanul Muslimin. Responden memberikan keterangan perasaannya, bahwa mayoritas dari mereka mengatakan bahagia, terharu, tenang, serta damai. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dari segi psikologis majelis ini memberikan kontribusi positif terhadap keimanan jemaah.

Kedua, Penulis selaku anggota tim keamanan Syubbanul Muslimin cukup mengetahui perilaku jamaah. Dalam konteks ini setidaknya ada dua jenis perilaku jamaah yang kentara. Pertama, jamaah yang khusyuk mengikuti dari awal acara dan biasanya tipe ini adalah jamaah yang sering mengikuti acara majelis. Kedua, jamaah baru atau jamaah yang hadir ketika lokasi acara berdekatan dengan rumah jamaah. Biasanya tipe ini cenderung di depan panggung sembari berjoget, kurang memperhatikan etika bershalawat dan mayoritas adalah anak-anak.

Kedua analisis tersebut, dapat menjadi landasan dasar untuk menyimpulkan dampak dari majelis Syubbanul Muslimin. Dari data di atas, mayoritas mengetahui tentang majelis Syubbanul Muslimin dan berdampak positif terhadap jamaah. Meskipun, di lain sisi ada hal negatif yang ditimbulkan yaitu berjoget ketika sholawat dilantunkan.

Data dan analisis tersebut menunjukkan, bahwa mayoritas jamaah telah merasakan hal positif dari majelis Syubbanul Muslimin ini, sehingga secara berangsur kebaikan yang diperoleh dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari dampak negatif yang ditimbulkan, mereka merupakan minoritas yang perlu diedukasi agar mengerti esensi dari sholawat itu sendiri.

*Penulis adalah Anggota Unity of Writer (UNITER)

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Kalami ID
Trending