205
Muhammad Luthfi Harits |

Kritik Nalar Medsos

Gambar: https://www.dream.co.id/

Oleh Muhammad Luthfi Harits*

Dalam kehidupan seringkali memunculkan masalah: sosial, politik, budaya, dan hukum. Ditambah kehidupan yang menampilkan dua wajah, wajah faktual dan wajah virtual (netizen). Dalam kondisi faktual masalah dapat dikendalikan—mempunyai sistem sosial yang nyata. Tapi, kondisi virtual, masalah susah dikontrol dan susah diprediksi.

Hadirnya alam maya (medsos) melahirkan nalar baru komunikasi, bentangan ruang dan waktu tidak lagi menjadi hambatan. Marshall McLuhan pada tahun 60-an dalam bukunya Understanding Media: Extension of A Man, memprediksikan suatu saat nanti dunia ini terbuka; informasi, komunikasi, aspirasi, dan sebagainya. Marshall McLuhan menyebutnya sebagai “Desa Global” (Global Village).

Konsep Desa Global terlahir karena penyebaran informasi yang cepat menciptakan iklim tanpa batas. Perubahan ini beriringan dengan kemajuan teknologi, saluran internet yang mudah diakses, mulai anak-anak sampai orang tua. Apalagi Indonesia dengan jumlah penduduk 268,2 juta, menurut Investor Daily Indonesia, “Jumlah pengguna internet pada tahun 2019 diproyeksikan tembus 175 juta, atau sekitar 65,3% dari total penduduk Indonesia.”

Peningkatan ini dikarenakan meluasnya pengguna ponsel pintar (smartphone) dan selesainya proyek penggelaran kabel fiber optic. Artinya, angka tersebut meningkat cukup signifikan dari data tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat 143 juta.

Kenaikan tersebut dibarengi dengan meningkatnya pengguna media sosial (medsos). Digital Around The World 2019 mengungkapkan, “150 juta penduduk Indonesia telah menggunakan media sosial. Pengguna medsos di Indonesia terbanyak rentang usia 18-34 tahun (pria lebih mendominasi), usia 18-24 tahun, jumlahnya mencapai 18%, sedangkan pengguna wanita 15%. Pada usia 25-34 tahun, presentase pengguna pria 19%, lebih besar dibanding pengguna wanita 14%.”

Peningkatan angka itu menunjukan animo luar biasa masyarakat Indonesia terhadap medsos. Penggunaan medsos tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tapi untuk jualan, mengembangkan bisnis, dakwah, dan aktifitas politik. Medsos mempunyai nilai positif dan mengandung sisi negatif.

Unsur negatif medsos susah dihindari. Kualitas komunikasi yang dibangun di medsos sama sekali tidak sehat karena disampaikan secara terbuka (membabi-buta). Aktifitas politik paling banyak menyumbang kerusuhan di medsos, sebenarnya dinamika itu tidak terlepas dari serangan politik, membalas serangan, serangan lagi, dan ujungnya pencitraan.

Sayangnya itu semua tidak disampaikan secara konstruktif, melainkan destruktif. Artinya perkembangan medsos hanya pada penggunanya saja, tapi tidak dibarengi dengan perkembangan nalar yang pantas; moral, etika, atau akhlak. Dengan demikian, medsos telah melahirkan nalar baru, nalar yang sulit dijangkau (abu-abu) antara manfaat dan mudharat.

Namun, hal tersebut bukanlah penghalang bagi kita untuk berusaha membangkitkan medsos agar sesuai jalur. Medsos jika difungsikan sesuai nilai manfaatnya akan menjadi salah satu kendaraan masa depan bangsa keluar dari permasalahannya.   

Akar masalah medsos sudah sama-sama kita ketahui, kalau tidak karena ingin mencapai kemapanan politik, berarti kemapanan ekonomi (pabrik hoaks), kalau tidak juga, kemapanan eksistensi, atau bisa juga mencari legitimasi (tidak jauh-jauh dari situ)—yang jelas para pemilik modal sedang bermain opini publik.

Lantas, bagaimana dengan kebangkitan medsos? Solidaritas sosial yang digagas Ibnu Khaldun, ‘mungkin’ secara teoritis bisa menjadi pencerahan, minimal pengingat bagi kita bahwa kita terlahir dari rahim yang sama, Ibu Pertiwi (Indonesia Raya). Menurut Ibnu Khaldun konsep tersebut adalah perangkat utama dalam membangun negara. Sebuah negara tanpa solidaritas sosial akan mudah terganggu: hilangnya gotong-royong, hilangnya trust, dan hilangnya rasa bersama untuk mempertahankan keutuhan Negara.

Solidaritas sosial Ibnu Khaldun memang disiapkan untuk menyambut perubahan dalam berbagai lini kehidupan, struktur sosial, politik, kultur, dan teknologi. Ibnu Khaldun menekankan terwujudnya komitmen masyarakat dalam mewujudkan stabilitas lingkungan. Dengan itu, akan terwujud kedamaian dan peningkatan terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Sederhananya, Ibnu Khaldun menganjurkan agar manusia mempunyai naluri membantu antar sesama dan tidak bercerai-berai hanya gara-gara urusan berbeda selera, menolong itu satu hal, berbeda selera lain hal. Jadi tidak bisa dicampuradukan, gara-gara berbeda selera lantas kita dihalalkan untuk berlaku semena-mena. Apalagi melakukan kesepakatan jahat terhadap kelompok tertentu, memfitnah, memojokkan (ujaran kebencian), dan mengadu-domba seperti yang dilakukan di medsos.

Konsep solidaritas sosial ini memiliki fungsi mendalam untuk memotret kehidupan sosial. Misalnya dalam masyarakat media sosial Indonesia, kalau kita memakai ukuran soliditaritas sosial dapat dipastikan nalar medsos kita terganggu, sama sekali tidak menggambarkan adanya solidaritas sosial. Tidak pandang bulu, mau kiai, mau tokoh masyarakat, mau siapapun ketika berbeda selera akan bertarung di medsos. Anehnya, pertarungan itu disampaikan dengan komunikasi yang receh. Karena itu, pola perjuangan selera harus digeser ke arah sosio-kultural (solidaritas sosial).

Dalam membangun tatanan sosial, para tokoh serta masyarakat harus lebih mengarahkan perhatiannya pada pengembangan civil society daripada orientasi kepentingan kuasa. Sebab, jika kepentingannya hanya politik semata akan mengarah pada sektarianisme yang menghalalkan segala sesuatu daripada memberdayakan sesuatu. Sedangkan pembangunan civil society akan mengarah pada persatuan berdasarkan pilihan-pilihan berbeda yang menciptakan solidaritas sosial seutuhnya (gotong-royong dan kekeluargaan yang dinamis), meminjam istilah Pierre Bourdieu inilah “modal sosial” yang potensial dan dimiliki masyarakat Indonesia.

Dengan demikian, nalar medsos harus kita pulangkan pada nilai muasalnya, secara sosial medsos bisa menjadi perekat hubungan antar warga negara, karena medsos adalah fasilitas dari Tuhan untuk kita fungsikan sebagai media persahabatan dan saling mengenal dengan berbagai macam golongan, maka yang harus dibangun adalah komunikasi fungsional, hubungan timbal balik yang memiliki nilai tersendiri bagi kehidupan kita.

Secara budaya, medsos adalah alat aspirasi untuk menyalurkan informasi dan hobi dengan berbagai ragam warna dan corak identitas. Secara politik, medsos bisa dijadikan saluran kritik terhadap pemerintah atau terhadap elit yang kita anggap tidak sesuai dengan cita-cita kemajuan bangsa. Secara ekonomi, medsos bisa dijadikan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif. Dan itu semua bisa diwujudukan melalui aktivasi solidaritas sosial yang konsisten. Sehatlah dalam bermedsos. Kembali pada nalar medsos yang sehat.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Pasca-Sarjana UIN Syarif Hidayatullah

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Kalami ID
Trending