386
Rohmatul Izad |

Internasionalisme Santri

Gambar: nu.or.id

Oleh Rohmatul Izad*

Saya sering bertanya-tanya, apa sebenarnya kontribusi santri bagi dunia? Atau, bila ingin diperluas lagi, apa kontribusi Islam Indonesia bagi dunia? Pertanyaan ini penting dicarikan jawabannya lantaran ‘hari santri’ bukan hanya sekedar eforia bagi para santri dan umat Islam Indonesia, tapi juga sebuah ‘fase’ di mana seharusnya pemikiran santri bisa menginternasional dan memberi warna bagi pergolakan intelektual mutakhir sekaligus menjadi pijakan bagi berbagai masalah global.

Selama ini sangat sedikit karya-karya bidang keilmuan Islam di Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa asing, atau bahkan hampir tidak ada. Ini berbeda dengan bidang-bidang lain seperti sastra yang telah sedikit lebih maju daripada yang lainnya.

Nama-nama seperti Pramodya Ananta Toer, Chairil Anwar, Andrea Hirata, Ahmad Tohari, dan terakhir Eka Kurniawan tampak tidak begitu asing bagi pembaca sastra luar negeri, karena beberapa karya sastra mereka telah mendunia, bahkan ada yang menjadi bacaan wajib di sebagian sekolah dan perguruan tinggi luar negeri.

Kita patut bertanya, karya keislaman seperti apa yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, katakanlah Inggris dan Arab, yang setingkat dengan karya-karya sastra para tokoh itu? Atau, adakah santri yang telah menulis buku atau kitab yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa asing? Saya berani menjamin hampir tidak ada.

Ini penting diklarifikasi lantaran ukuran untuk melihat kualitas sebuah bidang keilmuan atau pemikiran adalah dengan cara melihat seberapa diminati karya itu bagi pembaca luar negeri dan bukan terbatas menjadi wacana nasional semata.

Dalam amatan saya, para pembaca asing kurang minat dengan pergolakan intelektual di Indonesia, khususnya bidang keislaman. Ini terbukti dari kurangnya minat penerbit-penerbit luar untuk membeli hak cipta dari karya keislaman di Indonesia.

Dalam sebuah pameran buku di Frankfurt Book Fair 2019 yang diselenggarakan di Jerman beberapa waktu lalu, ternyata tak lebih dari dua puluh empat judul buku saja dari Indonesia yang hak ciptanya di beli oleh penerbit asing, di antaranya penerbit dari Vietnam, Malaysia, Mesir, Pakistan, dan Thailand. Buku-buku itu meliputi tema motivasi Islam, sastra, anak-anak, dan buku-buku dengan ilustrasi unik.

Fenomana ini menandakan bahwa pemikiran Islam khas Indonesia kurang dilirik oleh para pembaca luar. Sehingga akan semakin sulit membawa pemikiran Islam Indonesia, khususnya yang ditulis oleh para santri, ke kancah internasional. Ini juga sekaligus menandakan bahwa pergolakan pemikiran Islam dalam negeri ternyata benar-benar tidak dipertimbangkan oleh orang-orang asing.

Bila demikian, dengan cara bagaimana pemikiran santri bisa mendunia? Hari santri yang baru-baru ini terselenggara memang mengusung tema “Dari Santri untuk Perdamaian Dunia”, artinya pemikiran santri bisa diupayakan untuk menjadi solusi bagi perdamaian dunia.

Tapi tema ini terkesan masih sebatas wacana, dalam bentuk praktisnya, bagaimana cara santri mendamaikan dunia? Misalnya berbagai konflik di Timur Tengah seperti Irak, Afganistan, Shiria, Yaman, dan masih banyak lagi, apakah tema hari santri itu sudah cukup menjadi jalan keluar untuk mendamaikan negara-negara konflik itu? Belum lagi bicara soal diplomasi politik, kepentingan, dan bagaimana ‘pemikiran santri’ bisa sampai ke sana.

Memang, khazanah keislaman di Indonesia sudah banyak diteliti oleh orang-orang Barat (orientalis), tapi mereka tetaplah outsider (orang luar) yang seringkali dianggap kurang objektif dalam melihat perkembangan Islam Indonesia. Meski kita tak bisa menuntut banyak dari mereka, tapi para pengkaji Islam di Indonesia tetap bersikukuh bahwa tidak ada alasan apapun untuk tidak melihat Islam secara baik dan benar.

Dulu, kira-kira abad ke-16, peradaban Islam di Timur Tengah menjadi pintu masuk Renaisans dan Pencerahan Eropa. Karya-karya keislaman, filsafat, dan sejarah banyak sekali diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa yang ketika itu Eropa masih berada di fase peradaban gelap.

Islam sebagai sebuah peradaban, memberi kontribusi besar bagi peradaban dunia. Fenomena ini sama persis dengan ketika umat Islam pertama kali bersentuhan dengan karya-karya Yunani, yang ketika itu menjadi jembatan bagi kemajuan Islam dan merubah wajah sejarah Islam untuk selama-lamanya.

Apakah fakta sejarah ini bisa terulang kembali? Boleh jadi sangat bisa, tapi bila melihat situasi sekarang ini, rasa-rasanya belum mungkin bila karya-karya keislaman di Indonesia akan memutarbalikkan sejarah sebagaimana terjadi di masa dahulu. Sebabnya, karya-karya Islam di negeri ini belum bisa menginternasional dan sifatnya selalu lokalitas.

Sebagai contoh kecil, orang-orang Arab selalu memahami ‘bahasa Arab’ sebagai bahasa agama, bukan bahasa sains atau ilmu pengetahuan. Artinya, sulit bagi orang-orang Arab mau menerjemahkan karya-karya Islam dalam ‘bahasa Indonesia’ ke bahasa mereka. Padahal, kita tidak kekurangan ilmuwan Islam di negeri ini, sebut saja Gus Dur, Nurcholis Madjid, Amin Abdullah, untuk menyebut beberapa saja. Pemikiran tokoh-tokoh ini saya kira sudah cukup sukses merombak pemikiran Islam mutakhir, tapi kurang terdengar bagi orang-orang luar.

Di atas hanya contoh kecil dari problem bagaimana karya-karya keislaman anak bangsa kurang bisa menginternasional. Di lain hal, ada sesuatu yang menurut saya agak riskan perihal karya-karya santri. Misalnya, sejauh mana gagasan pemikiran santri bisa menawarkan sesuatu yang baru dan dapat sekaligus memberi solusi bagi problem mutakhir di dunia.

Saya kira ini menjadi PR besar tidak hanya bagi santri, tapi juga para pemerhati kajian Islam di Indonesia. Mungkin masih terlalu dini untuk berharap ilmuwan Indonesia bisa meraih nobel untuk bidang-bidang tertentu, terkhusus Islam, tapi bukan sesuatu yang tidak mungkin bila suatu saat harapan itu akan bisa diwujudkan.

Saran saya, perbaiki pola kurikulum pesantren atau mungkin juga kurikulum di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Selama ini, pendidikan ala pesantren masih sangat tradisional dan murni berbasis kitab kuning. Belum ada upaya untuk bergerak lebih jauh ke pengembangan sumber daya manusia berbasis riset atau penelitian. Bila ini tidak segera diperbarui, saya pastikan tidak akan pernah mungkin pemikiran santri bisa mendunia.

Sejauh ini para santri masih terfokus pada pengkajian kitab kuning yang umumnya ditulis oleh ulama dan ilmuwan masa lampau. Belum ada upaya signifikan ke arah penulisan karya ilmiah berbasis keislaman, riset, atau pengembangan sumber daya manusia yang lebih mutakhir. Padahal, sudah terlalu banyak ilmuwan muslim di Timur Tengah yang pemikirannya telah mendunia, sebab mereka mengembangkan riset yang dinamis.

Untuk riset ini, di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi mungkin telah dilakukan, tapi kurang dikelola dengan baik. Akhirnya, riset bidang ilmu pengetahuan kurang memberi hasil yang maksimal, khususnya pemanfatannya bagi kehidupan. Kita tidak perlu wacana yang mengawang-awang tentang ilmu pengetahuan, sebab ia harus ditundukkan pada realitas dan akhirnya memberi hasil dari segi pemanfaatannya.

*Penulis adalah Dosen Filsafat di IAIN Ponorogo

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Kalami ID
Trending