422
Rohmatul Izad |

Mengenal Filsafat Wujud Mulla Sadra

Gambar: islami.co

Oleh Rohmatul Izad*

Mulla Sadra atau Sadr al-Din Shirazi (w. 1050 H/1640 M) adalah salah satu filosof Muslim asal Persia yang paling berpengaruh sepanjang zaman modern ini. Ia tidak hanya dikenal di negara Iran, tapi pemikirannya juga meluas sampai ke penjuru dunia Islam. Meskipun, pemikirannya agak terlambat masuk ke Indonesia, yakni kira-kira di tahun 1980 melalui penerjemahan karya-karya Sayid Husein Nasr.

Mulla Sadra mengembangkan filsafat jenis baru yang mensintesiskan antara wahyu, pembuktian rasional, dan irfan (intuisi). Di tangan Mulla Sadra inilah, khazanah filsafat Islam menjadi lengkap dan sempurna, karena memasukan tiga jenis epistemologi sekaligus. Menurutnya, kebenaran tidak cukup hanya dibuktikan berdasarkan wahyu dan akal, tetapi juga harus dibuktikan melalui ketiga hal sekaligus, yakni akal, wahyu, dan intuisi.

Karya Mulla Sadra yang paling fenomenal adalah Asfar, yang membahas tentang empat tahap perjalanan gnostik (spiritualitas). Menurut Abdullah Saeed (2014), pemikiran Mulla Sadra banyak dipengaruhi oleh filsafat Aristotelian, doktrin Neoplatonisme, filsafat Ibnu Sina, Ibn Arabi, dan teks-teks agama dari khazanah Syiah. Meski begitu, pemikiran filsafatnya melampaui batas-batas madzhab Syiah, sehingga tidak perlu khawatir akan membuat orang terpengaruh ajaran Syiah bila mempelajarinya.

Secara garis besar, Mulla Sadra mengembangkan ajaran filsafat wujud (metafisika ketuhanan) di atas empat tema besar;

Pertama, kesatuan dan gradasi wujud: Mulla Sadra mengajarkan bahwa ‘wujud’ adalah realitas tunggal yang memiliki gradasi dan tingkatan intensitas yang beragam. Realitas yang paling absolut memanifestasikan diri untuk merealisasikan tatanan wujud yang bervariasi dan merealisasikan setiap bagian individu dari tatanan wujud tersebut ke dalam kenyataan.

Hal ini tidak sama dengan Aristoteles dan Ibn Sina, Mulla Sadra berpandangan bahwa ada sebuah Wujud yang sifatnya independen, sempurna, dan fundamental. Adapun wujud-wujud lain yang tidak sempurna, yakni manusia dan ciptaan lainnya, menyandarkan diri pada eksistensi wujud yang lebih tinggi.

Kedua, gerak substansi: menurut pandangan Mulla Sadra, perubahan adalah gerakan yang niscaya, dan dunia ini setiap saat selalu tercipta kembali secara terus-menerus. Filsafat jenis ini agak mirip dengan pemikiran Heraklitos, filsuf Yunani 6 abad sebelum masehi, yang meyakini bahwa matahari itu baharu setiap hari atau, kita tidak akan pernah menemui sungai yang sama setiap hari. Artinya, alam raya ini selalu bergerak dan tidak persis sama dari waktu ke waktu.

Ketiga, pengetahuan dan hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui: Mulla Sadra berpandangan bahwa pengetahuan dan realitas wujud (antara yang mengetahui dan diketahui) pada hakikatnya sama. Mulla Sadra berkata, ‘Tuhan mengetahui hakikat-Nya sendiri, dan hakikat-Nya tak lain adalah Wujud-Nya sendiri, dan karena Wujud dan hakikat-Nya adalah sama maka Tuhan pada saat yang sama menjadi yang mengetahui, pengetahuan, dan yang diketahui’.

Keempat, karakteristik dan eskatologi jiwa: dalam pandangan Mulla Sadra jiwa bergerak melalui transformasi yang bertahap, melalui fakultas-fakultas yang baru, dan akhirnya menuju kepada kesempurnaan. Ia menggunakan analogi kandungan untuk menggambarkan tentang akhirat.

Saat masih dalam kandungan, seorang anak sudah ada dalam dunia material, tetapi tidak menyadari eksistensinya sendiri. Begitupun di akhirat nanti, manusia berada di dunia lain tetapi tidak menyadari eksistensinya. Meskipun Mulla Sadra menerima konsep kebangkitan kembali aspek fisik manusia, tetapi ia berpendapat bahwa nantinya, saat di alam akhirat, yang menciptakan bentuk-bentuk eksternal adalah jiwa yang imajinatif dan bukan tubuh.

Nantinya, jiwa-jiwa manusia di surga akan mampu menciptakan bentuk-bentuk yang indah dan membahagiakan. Sementara jiwa-jiwa yang ada di neraka bisa menciptakan bentuk-bentuk yang menyedihkan, meskipun kondisi yang buruk ini pada akhirnya secara perlahan akan berubah dan kembali kepada Tuhan.

 

*Penulis Adalah Dosen Filsafat IAIN Ponorogo

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Kalami ID
Trending