298
Siswanto |

Meneladani Kiai Sahal Mahfudh dalam Berkarya

Gambar: oasemuslim.id

Oleh Siswanto*

KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh merupakan seorang kiai yang  ‘alim dalam berbagai disiplin ilmu. Muhammad Ahmad Sahal lahir di desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Jawa Tengah pada 17 Desember 1937. Dia anak ketiga dari enam bersaudara  dari pasangan KH. Mahfudh Salam (w. 1944) dan Nyai Hj. Badi’ah (w.1945).

Kiai Sahal panggilan akrabnya sejak kecil memang terkenal gemar membaca baik bacaan kitab kuning maupun buku ilmiah. Dari kegemaran membaca inilah Sahal kecil tumbuh menjadi seorang ulama dan kiai besar yang selama hidupnya dihabiskan untuk memberikan sumbangsih pemikiran kepada bangsa dan negara.

Kajen bagi Kiai Sahal adalah desa tempat di mana dia mempelajarai ilmu-ilmu yang menjadi dasar bagi segala ilmu pengetahuannya sebelum dia belajar kemanapun termasuk juga ilmu-ilmu umum melalui kursus kepada KH. Fauzan. Dibawah bimbingan ayahnya Kiai Mahfudh Salam, Kiai Sahal belajar mengaji (membaca) Alquran, hal yang sudah lazim sebagaimana anak-anak kecil dalam keluarga agamis.

Sedangkan dari ayahnya juga dia belajar bahasa arab secara aplikatif. Tetapi tidak lama dia belajar pada ayahnya karena ayahnya lebih dulu meninggal di penjara Belanda di Ambarawa, ketika itu Kiai Sahal baru berumur 7 (tujuh) tahun, setahun kemudian ibunya (Nyai Badi’ah) meninggal. Semasa hidup, ayahnya dikenang (paling tidak oleh anaknya) sebagai orang tua yang disiplin dan tegas terutama dalam mendidik anaknya. Bentuk ketegasan dari ayahnya kadang terasa sebagai sesuatu yang keras (jawa; galak). Tetapi apapun bentuk kegalakannya, ayahnya selalu mengimbangi dengan kompensasi yang dapat membesarkan hati.

Pola pembelajaran dalam bentuk kegalakan pada satu sisi dan kompensasi pada sisi yang lain, bagi anak-anaknya setelah dewasa dirasakan sebagai sebuah pola pembelajaran yang efektif semata-mata agar anak-anaknya disiplin dan rajin belajar. Pada saat yang lain kompensasi dari ayahnya mencerminkan pencurahan kasih sayang tulus dan perhatian yang mendalam sehingga hal itu memberikan sebuah pengertian bahwa kegalakan dari sang ayah bukan karena kebencian atau berniat menyakiti melainkan bentuk lain dari kasih sayang dan kecintaan orang tua demi kepentingan anak-anaknya di masa-masa yang akan datang.

Aktifitas Organisasi Sosial Keagamaan

Aktifitas Kiai Sahal dalam organisasi sosial keagamaan dimulai forum diskusi kecil ulama Kajen yang disebut Raudlah Musyawarah. Peranannya yang signifikan di forum Raudlah Musyawarah menarik para ulama setempat. Peranannya itu meningkat dengan amanat yang diberikan kepada Kiai Sahal sebagai Katib Syuriah NU cabang Pati (1967-1975) pada waktu yang bersamaan Kiai Sahal juga menjabat Ketua II Lembaga Pendidikan Ma’arif NU cabang Pati. Tahun 1977-1978 ia menjadi ketua Asosiasi Pesantren atau Rabithah Ma’ahid al-islamiyyah (RMI) cabang Pati, kemudian pada tahun 1980-1982 dia mulai berperan di tingkat wilayah dengan berperan sebagai Katib Syuriah NU wilayah Jawa Tengah.

Di Jawa Tengah karir organisasinya terus menanjak, pada tahun 1982-1985 Kiai Sahal dipercaya sebagai Rais Syuriah Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah. Kemudian peranannya di lembaga syuriah tersebut mulai naik ke tingkat pusat dengan dipercaya sebagai salah satu Rais Syurian Penguruh Besar Nahdlatul Ulama sejak tahun 1984-1999.

Pada Muktamar Lirboyo peran Kiai Sahal di lembaga dikukuhkan sebagai Rais Aam PBNU (1999-2004). Amanat sebagai Rais Aam ternyata masih berlanjut setelah Kiai Sahal kembali dikukuhkan sebagai Rais Aam periode 2004-2009, dan dikukuhkan kembali pada Muktamar di Makasar untuk periode 2009-2014. Pada saat yang hampir bersamaan Kiai Sahal juga menjabat Ketua Umum MUI Pusat sejak 2000-2005, 2005-2010, dan 2010-2015.  

Selain di beberapa lembaga tersebut, Kiai Sahal langsung terlibat dalam berbagai macam aktifitas pendidikan sejak tahun 1960-an. Pertama kali dia menjadi guru yang mengajar di pesantrennya “Maslakul Huda” Kajen Pati, kemudian sekaligus sebagai pengasuh sejak 1963 sampai 2014. Pada saat yang sama dia juga mengajar di Perguruan Islam Mathali’ul Falah  Kajen Pati, kemudian pada 1963 juga dia diberi amanat sebagai Direktur sampai 2014.

Di luar institusi pesantren Kiai Sahal pernah menjadi dosen Fakultas Tarbiyyah UNCOK Pati 1974-1976, keterlibatannya sebagai dosen berlanjut di Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang 1982-1985 bersamaan dengan tugasnya di PWNU Jateng yang waktu itu menjabat Rois Syuriyah. Pergulatannya di perguruan tinggi terus berlanjut ketika Kiai Sahal dipercaya menjadi Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara sejak 1989 sampai 2014.

Yang paling menarik perhatian adalah bahwa Kiai Sahal tercatat sebagai Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan (BPPN) sejak 1993 sampai digantikannnya lembaga tersebut dengan Komisi Nasional Pendidikan pada 2003 .

Keterlibatan Kiai Sahal di dunia pendidikan semakin mengukuhkan dirinya sebagai tokoh pesantren (kiai), pejuang sosial yang lintas batas. Dia tidak saja bergaul dengan lingkungan pesantren tetapi juga dengan lingkungan pendidikan non pesantren dan lingkungan sosial yang lain, dalam hal ini perguruan-perguruan tinggi dan organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan.

Bagi kalangan awam mungkin ketokohan Kiai Sahal tidak begitu dikenal kecuali sebagai tokoh NU. Hal ini karena memang Kiai Sahal sangat jarang berbicara pada media massa dan jarang pula tampil di forum-forum umum atau terbuka semisal pengajian, dia lebih suka pada forum-forum terbatas yang dialogis, terukur, terencana dan berkelanjutan.

Karya Ilmiah Kiai Sahal

Sejak muda, Kiai Sahal sering menulis dan mengekspresikan perasaannya dengan syair-syair arab atau tulisan apa saja. Setelah melanjutkan ke pesantren lain, kebiasaanya menulis terus berlanjut terutama yang berhubungan dengan pelajaran yang diampunya. Dan semakin lama tulisannya semakin matang seiring dengan kematangan keilmuannya.

Kemudian pada tahun-tahun berikutnya tulisan-tulisan itu menjadi buku antara lain; Thariqat al-Husul A’la Ghayah al-Wusul, Al-Bayan Al-Mulamma’ Fi Alfadhi Al-luma’ (Semarang: Toha Putra, 1999), Faidlul Hija ala Naili Raja (1999), Intifah Al-Wadijain Fi Munadharati Ulamai Hajain (1959), Al-Faraidil Ajibah (1959), Ats-Stamrah Al-hajainiyyah, (1960), Nuansa Fikih Sosial (1994), Ensiklopedi Ijma’, karya ini merupakan terjemahan dari kitab Mausu’ah al Ijma’ karya yang diterjemahkan bareng bersama KH. Musthofa Bisri (Gus Mus), Pesantren Mencari Makna (1997), Era Baru Fikih Indonesia, karya ini merupakan tulisan yang berisi tentang produk hukum beserta metodologi istimbatnya, Dialog Dengan Kiai Sahal (1997), Dialog Dengan Kiai Sahal (2003).

Dari karya-karyanya baik dalam bentuk buku maupun makalah telah menempatkan Kiai Sahal bukan hanya sebagai tokoh pesantren tetapi juga seorang intelektual yang karya-karyanya menjadi referensi anak bangsa dan lembaga-lembaga pendidikan terutama pesantren dan pekerja sosial yang ide-idenya menjadi inspirasi perubahan masyarakat.

*Alumnnus Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dosen IAIN Salatiga

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Kalami ID
Trending